Wawancara yang telah dilakukan pada Kamis, 8 Januari 2026, bersama Pak Hariyadi Nurwanto S.psi seorang praktisi psikologi yang membahas seputar perjalanan hidup, pengalaman dan prinsip, hingga tantangan dalam kehidupan yang sangat penting untuk generasi masa kini dari sudut pandang psikologi dan nilai keislaman yang beliau terapkan.
Pak Hariyadi menceritakan bahwa awal mulanya tidak terpikir untuk menjadi seorang psikologi. Karena, cita cita awal beliau menjadi seorang arsitek. Namun, seiring berjalannya waktu, beliau berpikir bahwa arsitektur dan psikologi memiliki kesamaan, yaitu sama sama tentang desain. Jika arsitekur mendesain bangunan, maka psikolog mendesain dan memahami manusia.
Pembelajaran dari setiap pengalaman serta memegang teguh amanah dan tanggung jawab yang telah diberikan. Pak Hariyadi menyoroti kondisi generasi saat ini yang terkadang bingung karena tidak mendapatkan pelajaran hidup bagaimana mestinya, meskipun telah berusaha dan bersungguh sungguh dalam berjuang. Prinsip islam menjadi pegangan utama Pak Hariyadi dalam menjalani pekerjaan dan kehidupannya. Beliau sangat menegaskan bahwa pekerjaan apapun tidak boleh menyalahi prinsip islam. Dalam penjelasannya, Pak Hariyadi selalu mengaitkan nilai islam dengan psikologi karena ajaran islam pada dasarnya membawa kebaikan.
Topik mengenai tantangan dan kegagalan, Pak Hariyadi menceritakan tentang bagaimana beliau mengatur waktu dengan kesibukan yang sekarang sangat padat. Menurut beliau, mengatur atau membagi waktu bukan sesuatu yang sulit apabila kita senang dalam menjalaninya. Jadi, Ketika seseorang menikmati apa yang ia kerjakan, maka segala aktivitas akan terasa lebih ringan dan mudah untuk membagi waktu. Selain itu, ada kegagalan yang pernah di alami oleh Pak Hariyadi. Namun, beliau menerangkan tentang konsep resiliensi, yaitu kemampuan untuk bangkit dari kegagalan. Karena, menurut beliau gagal bukan lawan dari sukses, tetapi bagian dari proses di dalamnya. Pak Hariyadi tidak berpikir bahwa gagal itu cobaan dari Allah, melainkan teguran kecil agar manusia selalu belajar dan memperbaiki diri.
Pandangan beliau tentang kemudahan di zaman sekarang yang justru membuat sebagian orang menjadi bingung saat mengahadapi masalah. Beliau juga mengkutip bahwa, di masa depan nanti godaan islam sangat berat, karena terlalu banyak yang menyepelekan hingga nilai islam yang sebenarnya salah dianggap normal dan menjalankan nilai islam dengan benar dianggap seperti orang asing. Pak Hariyadi juga membahas tentang prokrastinasi atau kebiasaan menunda, yang dalam sudut pandang psikologi disebabkan karena rasa malas serta kebiasaan menyepelekan sesuatu.
Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, contohnya tentang bagaimana generasi saat ini segalanya ingin yang praktis dan mudah. Karena, mereka memang di besarkan atau hidup di lingkungan teknologi yang sudah canggih dan serba praktis. Tidak dapat disalahkan apabila, anak anak generasi saat ini merasa ingin yang serba praktis dan mudah untuk melakukan serta mendapatkan sesuatu.
Melalui wawancara ini, penulis memperoleh banyak pembelajaran dan pengalaman berharga mengenai kehidupan dari sudut pandang psikologi dan mengkaitkan dalam prinsip islam untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Wawancara ini menunjukkan bahwa proses belajar, kegagalan, tantangan dan lingkungan berpengaruh dalam membentuk karakter seseorang.

