Budaya bertanya di kelas merupakan oksigen dalam proses pembelajaran. Namun, kenyataannya, menghidupkan kembali kelas yang “bernyawa” masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi dunia pendidikan kita. Siswa pasif, guru dominan berbicara, dan suasana belajar yang kering dialog sering kali kita jumpai. Kelas seolah menjadi ruang monolog: guru berbicara, siswa mencatat, dan diam dianggap sebagai tanda disiplin.
Alarm PISA 2022: Mengapa Kita Harus Berubah?
Kondisi kelas yang sunyi ini nyatanya berbanding lurus dengan kualitas literasi kita di tingkat global. Berdasarkan laporan survei Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, kemampuan siswa Indonesia dalam berpikir kritis dan menalar masih berada di bawah rata-rata negara Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).
Data tersebut menjadi pengingat kita bawah rendahnya skor tersebut menunjukkan keberanian bertanya dan berdialog di kelas masih perlu ditumbuhkan. Selama pola pembelajaran menempatkan guru sebagai satu-satunya sumber kebenaran, maka ruang bagi siswa untuk bernalar akan tetap terbatas. Padahal, esensi belajar sejatinya hidup ketika terjadi dialog.
Ramadan: Momentum Tadabbur dan Refleksi
Semangat menghidupkan kelas yang dialogis ini menemukan momentum yang paling tepat di bulan suci ramadan. Jika puasa sering kali identik dengan menahan diri, maka di SMA IT Insan Kamil Karanganyar, kita tidak ingin siswa “berpuasa” dalam bertanya. Sebaliknya, Ramadan adalah bulan tadabbur, sebuah proses berpikir mendalam yang melampaui sekadar membaca teks.
Dalam suasana yang lebih tenang dan reflektif, pembelajaran di bulan ramadan bukan lagi soal mengejar target materi yang kering, melainkan saatnya menyelami makna. Guru dapat memanfaatkan waktu ini untuk mengajak siswa berefleksi: “Mengapa kita melakukan ini?” atau “Bagaimana ilmu ini bermanfaat bagi siswa?” Dialog yang lahir dari hati saat berpuasa akan menciptakan kedekatan emosional yang lebih kuat antara guru dan siswa.
Menuju Future Muslim Leaders: Think Beyond Borders
Menghidupkan budaya bertanya bukan sekadar teknik mengajar, melainkan perwujudan dari visi besar kita: Future Muslim Leaders. Seorang pemimpin muslim masa depan tidak boleh hanya menjadi pengikut yang pasif.
Think Beyond Borders: Dengan berani bertanya, siswa belajar untuk meruntuhkan sekat-sekat keterbatasan berpikir. Mereka diajak untuk melihat dunia dengan kacamata yang lebih luas, tidak puas dengan satu jawaban tunggal, dan berani menelaah isu global dengan kritis.
Act for Sustainability: Dialog yang kita bangun di kelas adalah investasi jangka panjang untuk keberlanjutan karakter. Ketika siswa merasa didengarkan dan berani bersuara, mereka tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan solutif. Kualitas utama yang dibutuhkan untuk menjaga keberlangsungan peradaban di masa depan.
Dari diam menuju dialog, disanalah pendidikan menemukan rohnya. Terlebih di bulan ramadan ini, mari kita jadikan setiap ruang kelas ebagai laboratorium peradaban. di SMA IT Insan Kamil Karanganyar, mengajar bukan sekadar berbicara di depan kelas, tetapi mendengarkan dengna hati dan memantik logika agar lahir generasi yang tidak sekadar menghafal. Sebab mengajar bukan sekadar berbicara di depan kelas, tetapi mendengarkan dengan hati di tengah dialog.
(Irfan Hidayah, S.Pd.)

