Saat Hati Anak Bicara
Pendampingan Parenting Bersama Psikolog Hariyadi Nurwanto Bangkitkan Kesadaran Pola Asuh Gen Alpha
SMA IT Insan Kamil Karanganyar – Dalam upaya memperkuat hubungan emosional antara orang tua dan anak, serta memberikan wawasan mendalam mengenai pola pengasuhan yang adaptif terhadap tantangan zaman, sekolah menyelenggarakan kegiatan Pendampingan Parenting yang dihadiri oleh wali murid dan menghadirkan narasumber Bapak Hariyadi Nurwanto, S.Psi., Psikolog, pada hari [tanggal kegiatan] bertempat di ruang pertemuan sekolah.
Dalam pemaparannya, Bapak Hariyadi mengajak para orang tua untuk merefleksikan kembali pola asuh yang diterapkan dalam keseharian, terutama dalam konteks perubahan sosial yang kian cepat dan kompleks. Beliau memperkenalkan pendekatan yang disebut “pola asuh snowplow”, yakni pendekatan yang tidak semata-mata menghalangi anak dari tantangan, melainkan membimbing mereka untuk berani dan siap menghadapi rintangan secara mandiri.
“Anak-anak perlu dilatih menghadapi tantangan, bukan dijauhkan darinya. Kita sebagai orang tua perlu hadir bukan untuk menyingkirkan semua masalah, tapi membekali anak untuk melewati itu dengan kekuatan dirinya sendiri,” tegas beliau dalam sesi presentasi.
Bapak Hariyadi juga menyoroti fenomena paradoksal yang terjadi saat ini: jumlah sekolah setiap tahun meningkat, namun pada saat yang sama angka kenakalan remaja juga mengalami peningkatan. Hal ini, menurut beliau, menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam pola asuh dan pendampingan anak di rumah, sehingga sekolah tidak bisa menjadi satu-satunya tempat pembentukan karakter.
Sesi tanya jawab pun berlangsung hangat. Salah satu wali murid bertanya mengenai kapan waktu terbaik untuk berdiskusi dengan anak. Bapak Hariyadi menjawab:
“Waktu terbaik adalah saat semua hati ridho untuk duduk bersama. Orang tua tidak sedang marah, dan anak juga datang bukan karena dipaksa, tapi karena ia bersedia hadir. Di situlah komunikasi sejati bisa terjadi.”
Sebagai penutup kegiatan, sekolah mengadakan sesi penyampaian pesan dari anak kepada orang tua. Para siswa memasuki ruang pertemuan sambil membawa surat yang ditulis langsung dari hati mereka, berisi ungkapan yang ingin mereka sampaikan: mulai dari harapan, doa, hingga permintaan maaf dan ucapan terima kasih.
Momen ini menjadi puncak emosional kegiatan, saat banyak orang tua tak kuasa menahan air mata membaca tulisan anak mereka—ungkapkan yang, menurut pengakuan sebagian dari mereka, belum pernah terdengar secara langsung sebelumnya.
Kegiatan ini tidak hanya memberikan ilmu, namun juga menghadirkan momen penyembuhan emosional antara orang tua dan anak, sekaligus menjadi pengingat bahwa mendidik anak bukan hanya soal memberi perintah, melainkan membangun koneksi yang utuh antara jiwa orang tua dan anak.

