SMAIKA KONEK

Bukan sekedar wadah untuk upgrade diri, tapi juga membangun kemistri

Setiap orang ada masanya, dan disetiap masa ada orangnya. Namun tahun ini terasa berbeda karena Allah memberikan hadiah berupa kejutan luar biasa yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Can you guess it? Yups, saya dipertemukan dengan wajah-wajah baru yang menjelma sebagai Agent of Change. Tak hanya diizinkan untuk bertemu, bahkan Allah memberikan bonus berupa kesempatan untuk menahkodai sesi kelas Bahasa inggris ini yangmana pesertanya adalah guru-guru smaika yang diberi nama SMAIKA KONEK.

SMAIKA KONEK merupakan program kelas bahasa inggris yang diikuti oleh guru-guru SMAIKA dengan tujuan utama yaitu mengasah dan mengupgrade skill berbahasa inggris para guru. Lalu bagaimana respon pertama saya? Kaget? Tentu, Takut? Jangan tanya. Nervous? Apalagi. Tapi dengan bermodal nekat dan bismillah maka saya menjadikan hal tersebut sebagai tantangan. Tantangan yang harus dihadapi bukan dihindari apalagi ditinggal lari. Izinkan saya untuk memulai essay ini dengan cerita pov day one mengisi kelas yang muridnya para guru professional.

Hari itu saya melangkah masuk ke ruang kelas yang bertempat di kantor dengan campuran rasa deg-degan, canggung dan sedikit nervous. Pandangan saya tertuju pada wajah-wajah para guru hebat yang biasanya mengajar kini duduk di hadapan saya sebagai peserta. Can you imagine how I fell? Ibarat saya ini sedang melaksanakan microteaching yang disaksikan dan dinilai oleh para guru yang luar biasa mahirnya. Setiap kata yang keluar dari mulut saya, saya iringi dengan doa supaya tidak ada yang keliru, ambigu bahkan membuat bingung.

 Awalnya, saya pikir kelas ini akan penuh ketegangan. Bayangan tentang guru-guru yang super profesional, yang biasanya menguasai kelas, membuat saya merasa seperti murid yang canggung di hadapan guru-guru senior. Tapi, seiring berjalannya waktu, rasa deg-degan itu perlahan memudar. Ternyata, guru-guru SMAIKA sangat suportif. Mereka tidak segan tersenyum, menanggapi setiap pertanyaan saya dengan antusias, dan bahkan bisa diajak bercanda. Sedikit demi sedikit, saya mulai merasa lega. Atmosfer kelas yang awalnya terasa formal berubah menjadi hangat, dan saya mulai menikmati setiap momen yang terjadi.

Saat sesi ice breaking dimulai, saya baru menyadari betapa pentingnya momen ini bagi para guru. Ice breaking yang saya persiapkan sederhana saja seperti game ringan, permainan tanya jawab cepat, tic tac toe, spelling bee, maybe yes no dan aktivitas kecil lainnya yang ternyata bisa membangun kemistri rasa kekeluargaan di SMAIKA. Terkadang reaksinya membuat saya merasa bahagia dan melupakan masalah sejenak. Guru-guru terlihat senang, tertawa lepas, dan memunculkan aura energi positif yang terpancar dari setiap wajah dan gelak tawa.

Saya sadar bahwa di balik kesibukan mengajar, para guru ini juga butuh tempat untuk melepas penat, sekadar refreshing sambil tetap belajar bahasa Inggris. Moment itu membuat saya tersenyum sendiri, karena ternyata yang saya anggap “hanya game kecil” justru menjadi jembatan untuk mencairkan suasana dan juga sebagai rehat dari kepenatan.

Seiring kelas berlangsung, saya mulai melihat lebih jauh manfaat dari program SMAIKA KONEK ini. Ternyata, bukan hanya skill berbahasa Inggris yang bertambah, tapi juga kemistri dan rasa kekeluargaan antar guru. Dari diskusi kecil, tawa spontan, hingga pertanyaan-pertanyaan lucu yang terlontar, menciptakan hubungan yang hangat dan menyenangkan. Saya merasa bukan sekadar mengajar, tapi juga belajar dari sharing cerita dan juga dari pendapat-pendapat yang mereka utarakan.

Yang membuat pengalaman ini semakin berkesan adalah momen-momen spontan. Misalnya, ketika salah satu guru memberi komentar jenaka tentang grammar atau saat ada guru yang nyengir kaget saat game ice breaking berakhir lucu. Semua itu membuat saya sadar bahwa SMAIKA KONEK bukan sekadar program untuk mengasah kemampuan bahasa, tapi juga wadah untuk saling support, berbagi cerita, dan menumbuhkan rasa kebersamaan. Dari situ, saya merasa seperti bagian dari keluarga besar yang saling menghargai dan belajar bersama.

Dan yang membuat saya paling bersyukur yaitu, meskipun awalnya deg-degan, nervous, dan takut salah, pengalaman ini justru menjadi momen yang membahagiakan dan tak terlupakan. Saya jadi semakin yakin, bahwa setiap tantangan apapun bentuknya bisa menjadi jalan untuk tumbuh, belajar, dan menemukan cerita indah di balik setiap proses seperti pepatah every cloud has a silver lining.

SMAIKA KONEK bukan hanya tentang belajar bahasa Inggris namun juga tentang belajar hidup bersama, tertawa bersama, dan membangun ikatan yang bisa bertahan lama bersama teman-teman SMAIKA. Program tersebut juga menjadi batu loncatan bagi saya untuk terus mengasah dan mengupgrade skill kemampuan berbahasa Inggris. Mengajar guru-guru profesional membuat saya sadar bahwa proses belajar tidak pernah berhenti. Setiap pertanyaan, tanggapan, dan diskusi yang muncul di kelas menjadi refleksi bagi saya sendiri untuk terus belajar, memperbaiki diri, menambah kosakata dan berani mencoba hal-hal baru.

Pengalaman ini juga menginspirasi saya bahwa quotes never too late to learn itu benar-benar nyata. Tidak peduli usia, jabatan, atau pengalaman, kesempatan untuk belajar selalu ada jika kita mau membuka diri. Mengajar para guru yang notabene sudah expert pun mengingatkan saya bahwa proses belajar adalah perjalanan seumur hidup, dan keberanian untuk tetap belajar itulah yang membuat kita terus tumbuh.

(Nia Pratiwi, S.Pd.)

Scroll to Top